Banjir Bandang di WASIOR

Posted: Oktober 31, 2010 in Uncategorized

Longsor akibat gempa yang membendung badan sungai, diperkirakan menjadi sebab utama terjadinya banjir bandang di Wasior Papua, baru-baru ini.Demikian diungkapkan beberapa pengamat hingga Sabtu (9/10/10).

Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Antung Deddy, Jumat (8/10/10), menjelaskan curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya longsor di hulu sungai. “Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa wilayah tersebut merupakan daerah patahan dan jenis tanah di sana mudah sekali tererupsi,” ucapnya.

Lebih jauh, lanjut Antung, analisis dari citra satelit yang didapat menyimpulkan bahwa wilayah sejauh 6 – 7 km dari Wasior merupakan penyebab terjadinya banjir bandang. “Di wilayah tersebut terdapat dua pertemuan sungai yang tersumbat karena longsoran yang membentuk bendungan atau timbunan. Timbunan besar pun sebenarnya sudah terbentuk sebelum hujan terjadi” analisa Antung

Penyumbatan tersebut dianalisa Antung disebabkan adanya gempa yang terjadi sebelumnya, sehingga membuat tanah menjadi longsor. “Selain itu, sebelum hujan melanda wilayah tersebut, sebenarnya pada Kamis (30/9/10) juga terjadi gempa di Kaimana, Papua Barat dengan 7,2 skala richter yang diikuti oleh gempa-gempa kecil. Gempa tersebut juga memicu rapuhnya struktur tanah di wilayah tersebut,” sambung Antung.

Dari segi tutupan lahan di wilayah tersebut tidak ada aktivitas illegal loging dan hutan di sana masih terjaga serta termasuk hutan konservasi, fenomena terjadinya longsor di hulu-hulu sungai ini sangat dimungkinkan mengingat topografi di Papua terkenal sangat curam. Untuk wilayah di sekitar Wasior sendiri, memang terdapat pegunungan-pegunungan yang memanjang dengan ketinggian rata-rata 1.800 meter.

“Dari data citra satelit yang didapat pada tahun 2009, tutupan hutan di wilayah tersebut adalah sebesar 91,32 persen. Ilegal logging pun sangat sulit dilakukan di sana karena memang aksesnya susah sekali. Kalaupun ada penebangan pohon, hanya dilakukan oleh penduduk sekitar untuk kebutuhan mereka sehari-hari dan skalanya pun kecil,” tambah Antung.

 

Namun, menurut Antung, sebenarnya KLH sendiri sudah membuat prakiraan banjir dan longsor di wilayah tersebut dan sudah disampaikan pada bulan April 2010 kemarin. Prakiraan tersebut menyebutkan bahwa 46 persen wilayah di Wasior dikategorikan sebagai daerah yang rawan banjir dan longsor. Daerah tersebut beresiko tinggi banjir dan longsor berdasarkan pada kerusakan lahan dan curah hujan yang tinggi.

 

Sementara itu Direktur Pengurangan Resiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho pada hari yang sama menerangkan bahwa curah hujan yang tinggi telah memicu terjadinya longsor di lereng-lereng pegunungan yang ada di sana. Material longsor yang berupa bebatuan dan batang-batang pohon kemudian menghambat laju air sungai dan membentuk bendungan secara alami.

“Tiga sungai yang ada di sana, yaitu Sungai Sanduai, Sungai Anggris, dan Sungai Manggurai meluap dan bendungan yang terbentuk ini akhirnya tidak kuat menahan air. Terlebih lagi dengan karakteristik sungai di sana yang berbentuk huruf V. Air kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan volume yang besar, serta akhirnya menghantam desa-desa yang ada di tepian sungai. Banjir bandang tersebut hampir sama dengan fenomena banjir bandang yang terjadi di Bohorok pada bulan November 2003,” lanjut Sutopo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s